Kamis, 16 Maret 2017

Tugas Psikoterapi Minggu 1



Nama                       : Reta Liuja
Npm                         : 19514104
Kelas                        : 3PA11


PSIKOTERAPI
Apa itu Psikoterapi ?
Secara etimologis psikoterapi mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau sederhananya jiwa dan “theraphy” dari bahasa yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan Psychotherapeutic yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan tekhnik psikologis untuk melakukan intervensi klinis. Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara klien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
Sejarah Singkat Psikoterapi
Psikoterapi lahir pada pertengan dan akhir abad lalu. Psikoterapi dikenal pada mulanya karena menyembuhkan orang sakit melalui pengaruh hubungan antara seorang dengan orang lain yang sudah lama dilakukan, setua umur manusia di dunia ini. Jauh sebelum ditemukan cara pengobatan untuk menyembuhkan orang sakit, sudah disadari adanya pengaruh yang bisa diberikan untuk mempengaruhi sesuatu penyakit, dengan menanamkan atau meningkatkan perassaan sehat, bentuk penyembuhan ini kemudian dikenal dengan psikoterapi. Anton Mesmer mempergunakan tekhnik hypnosis dan sugesti, kemudian tekhnik hypnosis digunakan Jean Martin Charcot. Selanjutnya Paul Dubois merumuskan dan menekankan peranan penting tekhnik berbicara yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest”. Josep Breuer (senior dari Sigmen Freud) dan Sigmun Freud menggunakan tekhnik hypnosis dan tekhnik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien-pasien histeria.
Ciri Psikoterapi :
1.      Psoses : Interaksi 2 pihak, formal, professional, legal, etis
2.      Tujuan : perubahan kondisi psikologis individu-individu yang positif / optimal (afektif, kognitif, perilaku/kebiasaan)
3.      Tindakan, berdasar : Ilmu/ teori –teori, tekhnik, skill yang formal, assessment/ data yang diperoleh melalui proses assessment, wawancara, observasi, tes dll.
Tujuan psikoterapi :
1.      Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
2.      Mengurangi tekanan emosional
3.      Mengembangkan potensi klien
4.      Mengubah kebiasaan
5.      Memodifikasi struktur kognisi
6.      Memperoleh pengetahuan tentang diri
7.      Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berhubungan interpersonal
8.      Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
9.      Mengubah kondisi fisik
10.  Mengubah kesadaran diri
11.  Mengubah lingkungan sosial
Tekhnik atau metode psikoterapi
Terdapat banyak sekali tekhnik atau metode psikoterapi, akan tetapi tekhnik yang sudah banyak digunakan adalah :
1.      Psikoanalisis
Tujuan psikoanalisis adalah menyadarkan individu dari konflik yang tidak disadari serta mekanisme pertahanan yang digunakan untuk mengendalikan kecemasan.apabila motif dan rasa takut telah diketahui, maka hal-hal tersebut dapat diatasi dengan cara yang lebih rasional dan realistis.
2.      Terapi eksistensial/humanistik
Merupakan penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Dalam terapi ini, ahli mencoba menafsirkan perilaku penderita, teta[I bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri.
3.      Terapi perilakuan
Mencakup sejumlah metode yang berbeda-beda yang kesemuanya itu didasarkan kepada teori-teori belajar.

MACAM-MACAM ALIRAN PSIKOLOGI DAN BENTUK TERAPINYA
Strukturalisme
Strukturalisme merupakan aliran yang pertama dalam psikologi karena dikemukakan oleh Wilhelm Wundt setelah ia melakukan eksperimennya di laboratotium. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin limu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode intropeksi. Pada masa itu, tercatat aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psokologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt. Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah “struktur” yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawan-persenyawan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi.
Ciri-ciri dari strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau proses kesadaran yang dipandang  terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen  kesadaran tersebut. Karena pandanganya elementalistik ini, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan para ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia, selalu bersumber pada kesasaran. Metode yang dipakai dalam strukturalisme ialah metode instropektif. Metode introspeksi ialah orang yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia melakukan suatu eksperimen. Sensasi seperti manis, pahit, dingin dapat diidentifikasi memakai introspeksi.

Fungsionalisme
Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut dibahas dalam mempelajari psikologi. Pendekatan fungsionalisme berlawanan dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme. Aliran fungsionalisme juga keluar dari pragmatism sebagai sebuah filsafat. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa, maupun psikologi analytis, yang berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme memiliki macam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, J.R.Anggell dan James Mc.Keen Cattell. Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Salah satu teori james yang sangat popular adalah teori mengenai emosi. Menurutnya gejala kecemasan merupakan sebab timbulnya emosi. Pada waktu yang bersamaan seorang ahli fisiologi Denmark yaitu Carl Lange mengajukan teori yang sama dengan teori James, sehingga teori itu lalu dikenal sebagai teorui James-Lange tentang emosi.

Behaviorisme
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Peletak dasar aliran ini adalah Ivan Pavlov  (1849-1936) dan William Mc Dougall (1871-1938). Teorinya yang terkenal adalah mengenai insting. Menurutnya insting adalah kecenderungan bertingkah laku dalam situasi tertentu sebagai hasil pembawaan sejak lahir dan tidak dipelajari sebelumnya. Setelah eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov, maka muncullah pendapat-pendapat yang kemudian muncul sebagai aliran behaviourisme. Inti dari aliran ini adalah asumsi bahwa jiwa bukan materi sehingga tidak dapat diteliti secara langsung. Penelitian difokuskan pada tingkah laku dengan asumsi bahwa tingkah laku merupakan wujud dari kejiwaan manusia maupun hewan lainnya.
Contoh Kasus :
Ketika bu Ina ingin mengajarkan bagaimana mengajarkan berhitung , ia akan mengamati terlebih dahulu bagaimana keadaan fisik anaknya dan kemampuan dasar yang dimiliki. Ibu Ina akan berfikir ia sebagai subjek dan anaknya sebagai objek. fakta netral harus dimiliki oleh sang ibu dalam menghadapi anaknya. Ibu akan menjelaskan dan mencotohkan tentang bagaimana urutan berhitung sebab-akibat dalam pengajaran akan didapatkan sebagai hasil. Rangkaian sebab (pemberian stimulus) akibat ini akan menghasilkan sebuah respon dari anaknya dimana respon ini akan membentuk sebuah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pembelajaran. teori-teori tersebut akan dipraktekkan secara instrumental di kelas – kelas selanjutnya.

Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis muncul pada tahun 1900 sebagai upaya memperdalam pandangan-pandangan psikologis dan mengkaitkannya melalui berbagai kemajuan dalam bidang kedokteran.Tokoh yang disebut sebagai bapak psikoanalisis adalah Sigmun Freud.Freud lahir tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg Moravia. Freud berusaha mereduksi psikologi menjadi kedalam neurologi karena pada dasarnya ia adalah seorang ahli saraf.
Teori dasar dari sigmun adalah ide tentang alam sadar (conscious mind) versus alam bawah sadar (unconscious mind). Alam sadar merupakan apa yang seseorang sadari pada saat-saat tertentu, pengindraan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi, perasaan yang anda miliki. Hal yang berkaitan erat dengan alam sadar adalah alam pra-sadar, yaitu apa yang disebut saat ini dengan “kenangan yang sudah tersedia” (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah data dipanggil kea lam sadar, kenang-kenangan yang walaupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat dengan mudah diapanggil lagi. Menurut  Freud keduanya adalah bagian terkecil dari fikiran. Psikoanalisa merupakan aliran yang berpendapat bahwa sebagian besar perilaku manusia berasal dari proses bawah sadar dirinya. Perilaku manusia dianggap sebagai interaksi sub inti dalam kepribadian manusia yaitu Id (unsur primitive dari kepribadian yang mengandung insting seksual dan insting agresif), Ego (disebut prinsip realitas) dan super ego (merupakan prinsip moral yaitu mengontrol perilaku dari segi moral).
Contoh Kasus :
Seorang ibu membenci anaknya karena kehadiran anak tidak dikehendaki, kemudian sang ibu ingin membunuh anakya (dorongan id) tetapi super ego tidak membolehkannya, karena itu sang ibu justru bertindak sebaliknya dengan sangat menyayangi anaknya (realitas dari Ego).

Humanistik
Muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa. Oleh karenanya sering disebut sebagai the third force (the first force is behaviorism, the second force is psychoanalysis). Memahami manusia sebagai suatu totalitas. Oleh karenanya sangat tidak setuju dengan usaha untuk mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku (behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia harus berkembang lebih jauh daripada sekedar memenuhi kebutuhan fisik, manusia harus mampu mengembangkan hal-hal non fisik, misalnya nilai ataupun sikap. Metode yang digunakan adalah life history, berusaha memahami manusia dari sejarah hidupnya sehingga muncul keunikan individual.
Contoh Kasus :
Teta pada awalnya adalah anak yang nakal, lalu dia dimasukan sekolah pesatren oleh orang tuanya, kemudian seiring berjalnnya waktu, teta terketuk hatinya dan sadar. dia berniat untuk menjadi lebih baik dan meningkatkan ibadahnya. kesadaran teta singkron terhadap lingkungannya yang juga mendukung keinginan teta untuk berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif merupakan reaksi terhadap behaviorisme dan sebagiannya lagi kembali kognitif dari psikologi,dimana memandang bahwa ilmu prilaku dan proses mental. Aliran ini lahir pada awal tahun 70-an ketika psikologi sosial berkembang ke arah paradigma baru manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk pasif yang digerakkan oleh lingkungannya tetapi makhluk yang paham dan berpikir tentang lingkungannya (homo sapiens). Aliran ini memunculkan teori rasionalitas dan mengembalikan unsur jiwa ke dalam kesatuan dalam diri manusia .asumsi yang digunakan adalah manusia bersifat aktif yang menafsirkan stimuli secara tidak otomatis bahkan mendistorsi lingkungan.
Contoh kasus :
Seorang pelajar tidak suka dengan pelajaran matematika namun karena di dorong oleh rasa tanggung jawabnya dan tata tertib yang berlaku sebagai pelajar, akhirnya pelajar tersebut tetap memperhatikan guru saat menjelaskan pelajaran matematika agar mendapat nilai yang baik.

Gestalt
Istilah gestalt berasal dari bahasa Jerman. dalam bahasa inggris berarti form, shape, configuration, whole. Apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti, keseluruhan, esensi, totalitas, hal peristiwa dan hakikat. Aliran ini dikembangkan di sekolah Berlin oleh tokoh-tokohnya seperti M. Weitheimerm K. Koffka, dan W. Kohler. Aliran ini memandang yang utama bukanlah elemen tetapi keseluruhan. Metode kerjanya adalah mengannalisis unsur-unsur kejiwaan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak munfkin dianalisis kedalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keselurujan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih lebih dari sekedar penjumlahan unsur-unsurnya.keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna keseluruhan. Artinya, makna gestalt bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsure-unsur itu bergantung pula pada gestalt.
Psikologi gestalt memandang keberadaan totalitas batiniah yang mengorganisasi yang memposisikan totalitas sebagai sesuatu yang utama, sedangkan elemen-elemen kejiwaan merupakan sesuatu yang sekunder.. lebih lanjut, gejala-gejala psikis yang khusus menurut gestalt merupakan totalitas dari seluruh keadaan psikis yang menentukan bangkitnya tenaga batiniah dalam psikis manusia.

Sumber :
Basuki, Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma
Gunarsa, singgih D. 2007. Konseling dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta : PT Raja Grafindo
Riyanti, Dwi. 1998. Psikologi Umum 2. Jakarta : Universitas Gunadarma
Semuin, Yustinus. 2006. Kesehatan mental. Yogyakarta : Kanisius


Minggu, 22 Januari 2017

Permasalahan SDM "Contoh Kasus"



Nama   : Reta Liuja
Npm    : 19514104

Pada beberapa minggu yang lalu saya telah membahas analisis dua contoh kasus mengenai masalah SDM yang sering terjadi dalam suatu perusahanaan yaitu masalah organisasi dan masalah pekerjaan dan profesional. Pada postingan minggu ini saya akan kembali membahas mengenai contoh kasus permasalahan SDM lainnya yang juga mungkin sering terjadi dalam suatu perusahaan.

Contoh Kaus :  Budaya dan Sikap
            Pada perusahaan “A”  terdapat suatu permasalahan dalam sikap dan budaya yang ada pada karyawannya, departemen SDM pada perusahaan “A” sering dipusingkan dengan masalah ketidakdisiplinan yang terjadi di perusahaan tersebut, budaya jam “karet” bukanlah hal yang asing yang ditemukan pada perusahaan “A”. Masalah ketidakdisiplian ini memang merupakan salah satu hal yang sulit untuk dihindari karena masih banyak orang-orang yang biasanya menyimpang dari prosedur atau peraturan yang berlaku. Kurangnya ketegasan dari pimpinan juga membuat para karywannya masih saja sering melanggar aturan tersebut sehingga, banyak pekerjaan yang terkadang terbengkalai dan memperlambat kemajuan perusahaan “A” tersebut.

Analisi Kasus :
Kemajuan suatu perusahaan salah satunya dapat dipengaruhi oleh sikap dari karyawan yang bekerja dalam suatu perusahaan. Kinerja pegawai merupakan salah satu faktor yang membuat cepat atau lambatanya suatu perusahaan berkembang, oleh karena itu sikap seorang manager maupun karywan sangat mempengaruhi hal tersebut. Dalam permasalahan yang terjadi di perusahaan “A”,untuk membasmi sikap ketidakdisiplinan tersebut seorang manager harus bersikap tegas dan memberikan hukuman yang pas jika karyawannya sering tidak disiplin pada waktu dalam suatu perusahaan. Para karyawan yang terlambat pasti akan memberikan berbagai alasan yang mungkin dapat dimaklumi oleh manager dalam perusahaan “A”, tetapi jika hal tersebut terjadi dalam kurun waktu yang berulang-ulang atau sering terjadi, mungkin manager “A” harus mengambil sikap tegas pada karyawan-karyawan tersebut agar mereka jera dan tidak mengulangi ketidakdisiplinan yang mereka lakukan. Manager harus memberikan hukuman yang sepadan seperti pemotongan gaji ataupun surat peringatan, tetapi peraturan yang diberikan jangan hanya sekedar peraturan tertulis semata tetapi juga harus direalisasikan agar sikap karyawan-karyawan tersebut dapat berubah dan dapat berpengaruh bagi perusahaan “A” tersebut. Karena sangat memungkinkan jika ketidakdisiplinan yang sering terjadi pada karyawan tersebut tidak lagi terjadi, kesempatan untuk kemajuan perusahaan tersebut lebih tinggi peluang terjadinya.

Selasa, 17 Januari 2017

bagaimana menumbuhkan motivasi kerja

Nama : Reta Liuja
Npm : 19514104

           Dalam dunia kerja persaingan tentu saja sangat ketat dan dilakuan hampir setiap hari tanpa jeda, disamping itu banyak pekerjaan yang harus di selesaikan dengan tempo waktu yang ditetapkan, hal tersebut mungkin saja dapat membuat seorang karyawan menjadi lelah dan kurang bersemangat dan hilangnya motivasi kerja.
           Banyak hal yang dapat dilakukan agar meningkatkan motivasi kerja bagi karyawan, misalnya dengan menawarkan reward berupa kenaikan gaji atau upah jika dapat menyelesaikan suatu pekerjaan atau suatu target tertentu dalam waktu yang ditentukan. Tentu saja hal ini akan membuat seseorang termotivasi untuk bekerja karena mengejar reward yang di janjikan, memberikan reward dalam jangakan panjang juga dapat meningkatkan motivasi kerja seseorang dalam waktu yang panjang juga, maksudnya jika di suatu perusahan menjanjikan karyawannya akan mendapatkan kenaikan pangkat atau gaji jika menyelesaikan suatu pekerjaan di tahap tertentu dan dapat menyelesaikan suatu pekerjaan lagi ditahap selenjutnya tentu saja semua karyawan akan termotivasi atau timbul motivasi dalam diri karyawan untuk bekerja lebih giat agar mendapatkan reward walaupun harus bersaing dengan banyak karyawan lainnya, karena mereka bekerja untuk mendapatkan tujuan tertentu. Intinya kita harus memeberikannya sebuah reward agar karyawan dapat menumbuhkan motivasi kerja karena dengan reward, mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh karena merekamempunyai suatu tujuan tertentu yang jelas.

Senin, 09 Januari 2017

Perencanaan dan Pengembangan Karir



Nama : Reta Liuja
NPM : 19514104
 
PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KARIR
A.    Perencanaan Karir
1.    Pengertian Perencanaan Karir
Perencanaan karier adalah suatu perencanaan tentang kemungkinan seorang karyawan suatu organisasi atau perusahaan sebagai individu meniti proses kenaikan pangkat atau jabatan sesuai persyaratan dan kemampuannya.
2.    Tujuan Perencanaan Karir
a.         Pengembangan yang lebih efektif  tenaga berbakat yang tersedia
b.         Kesempatan penilaian diri bagi karyawan untuk memikirkan jalur – jalur karir tradisional atau jalur karir
c.         Pengembangan sumber daya manusia yang lebih efisien di dalam dan di antara divisi dan atau lokasi geografis
d.        Kepuasan kebutuhan pengembangan pribadi karyawan
e.         Peningkatan kinerja melalui pengalaman on the job training yang diberikan oleh perpindahan karir vertical dan horizontal
3.    Unsur-unsur Perencanaan Karir
a.       Penilaian individu tentang kemampuan, minat, kebutuhan karir dan tujuan
b.      Penilaian organisasi tentang kemampuan dan kesanggupan pegawai;
c.       Komunikasi informasi mengenai kebebasan memilih dan kesempatan karir pada  organisasi
d.      Penyuluhan karir untuk menentukan tujuan-tujuan realistik dan rencana untuk pencapaiannya.
4.    Faktor Perencanaan Karir
a.       Kemampuan manajerial
Tujuan karir bagi manajer adalah untuk meningkatkan kualitas dari diri sendiri, analitis dan kemampuan emosional.
b.       Kemampuan fungsional-teknis
Digunakan para teknisi yang akan melanjutkan pengembangan dari bakat teknisnya. Orang-orang tersebut tidak mencari kedudukan dalam manajerial.
c.       Keamanan
Digunakan untuk kesadaran keamanan individu untuk memantapkan kesadaran karir mereka.
d.      Kreativitas
Seseorang yang kreatif memiliki sedikit sikap seperti pengusaha. Mereka ingin menciptakan atau membangun sesuatu yang benar-benar milik mereka.
e.       Otonomi dan kebebasan
Dasar karir ini digunakan untuk orang yang memiliki hasrat kebebasan agar bebas dari aturan-aturan organisasi. Mereka menilai otonomi dan ingin menjadi bos dari mereka sendiri dan bekerja pada langkah mereka sendiri.

B.     Pengembangan karir
1.    Pengertian Pengembangan Karie
Pengembangan karier adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan status seseorang dalam suatu orgnisasi pada jalur karier yang telah ditetapkan dalam organisasi yang bersangkutan.
2.    Tujuan Pengembangan Karir
a.         Membantu pencapaian tujuan individu dan perusahaan dalam pengembangan karier karyawan yang merupakan hubungan timbal balik yang bermanfaat bagi kesejahteraan karyawan dan tercapainya tujuan perusahaan. Seorang pegawai yang sukses dengan prestasi kerja sangat baik kemudian menduduki posisi jabatan yang lebih tinggi, ini menunjukkan bahwa tercapai tujuan perusahaan dan tujuan individu.
b.         Menunjukkan Hubungan Kesejahteraan Pegawai Perusahaan merencanakan karir pegawai dengan meningkatkan kesejahteraannya sehingga memiliki loyalitas yang lebih tinggi.
c.         Membantu pegawai menyadari kemampuan potensinya. Pengembangan karir membantu menyadarkan pegawai akan kemampuannya untuk menduduki suatu jabatan tertentu sesuai dengan potensi dan keahliannya.
d.        Memperkuat hubungan antara Pegawai dan Perusahaan Pengembangan karier akan memperkuat hubungan dan sikap pegawai terhadap perusahaannya.
e.         Membuktikan Tanggung Jawab Sosial Pengembangan karier suatu cara menciptakan iklim kerja yang positif dan pegawai-pegawai lebih bermental sehat.
f.          Membantu memperkuat pelaksanaan program-program Perusahaan Pengembangan karir membantu program-program perusahaan lainnya agar tercapai tujuan perusahaan.
g.         Mengurangi Turnover (pergantian karyawan karena mengundurkan diri) dan Biaya Kepegawaian Pengembangan karier dapat menjadikan turnover rendah dan begitu pula biaya kepegawaian menjadi lebih efektif.
h.         Mengurangi Keusangan Profesi dan Manajerial Pengembangan karier dapat menghindarkan dari keusangan dan kebosanan profesi dan manajerial.
i.           Menggiatkan Analisis dari Keseluruhan Pegawai Perencanaan karir dimaksudkan mengintegrasikan perencanaan kerja dan kepegawaian
j.           Menggiatkan Pemikiran (Pandangan) Jarak Waktu yang Panjang Pengembangan karier berhubungan dengan jarak waktu yang panjang. Hal ini karena penempatan suatu posisi jabatan memerlukan persyaratan dan kualifikasi yang sesuai porsinya.
3.    Unsur-unsur Pengembangan Karir
a.              Menaksir kebutuhan karir (Career need assessment) Karir bagi seseorang merupakan suatu unsur yang sangat penting dan bersifat sangat pribadi dalam kehidupannya. Dalam penyusunan program pengembangan karir, menaksir kebutuhan karir secara individual ini merupakan unsur pertama yang dikatakan lebih dahulu, karena justru unsur inilah sebenarnya yang akan sangat berpengaruh terhadap terwujudnya sasaran utama dari program pengembangan karir, yaitu memelihara sumber daya manusia yang ada agar tetap memiliki kemauan kerja dalam organisasi dengan intensitas yang cukup tinggi.
b.             Kesempatan karir (Career opportunities) Setelah tenaga kerja didorong untuk menentukan kebutuhan karirnya, maka sudah sewajarnya apabila diikuti dengan tanggung jawab untuk menggambarkan kesempatan karir yang ada didalam organisasi yang bersangkutan. Dengan informasi tentang kesempatan karir yang ada dalam organisasi, maka setiap tenaga kerja dan calon tenaga kerja mengetahui dengan jelas berbagai kemungkinan jabatan yang dapat didudukinya. 
c.              Penyesuaian kebutuhan dan kesempatan karir (Need opportunity alignment) Apabila kedua unsur terdahulu, yaitu kebutuhan karir dari tenaga kerja dan kesempatan karir yang tersedia telah dapat ditetapkan, maka yang harus dilakukan adalah mengadakan penyesuaian diantara kedua kepentingan tersebut. Dalam pelaksanaannya, penyesuaian tersebut dapat dilakukan dengan bantuan program mutasi tenaga kerja atau program pelatihan dan pembangunan tenaga kerja. 
4.    Faktor Pengembangan Karir
a.         Hubungan Pegawai dan Organisasi
b.         Personalia Pegawai
c.         Faktor Eksternal
d.        Politicking Dalam Organisasi
e.         Sistem Penghargaan
f.          Jumlah Pegawai
g.         Ukuran Organisasi
h.         Kultur Organisasi
i.           Tipe Manajement

Perencanaan Karir Individual
Perencanaan karir individual terfokus pada individu yang meliputi latihan diagnostic, dan prosedur untuk membantu individu tersebut menentukan “siapa saya” dari segi potensi dan kemampuannya.
Perencanaan karir individual meliputi :
  1. Penilaian diri untuk menentukan kekuatan, kelemahan, tujuan, aspirasi, preferensi, kebutuhan, ataupunjangka karirnya (career anchor)
  2. Penilaian pasar tenaga kerja untuk menentukan tipe kesempatan yang tersedia baik di dalam maupun di luar organisasi
  3. Penyusunan tujuan karir berdasarkan evaluasi diri
  4. Pencocokan kesempatan terhadap kebutuhan dan tujuan serta pengembangan strategi karir
  5. Perencanaan transisi karir.
Managemen Karir
Manajemen karir adalah proses dimana organisasi mencoba untuk menyesuaikan minat karir individual dan kemampuan organisasi untuk merekrut karyawan (Gutteridge, 1976). Sedangkan menurut Greenhouse (1987), manajemen karir adalah proses dimana individu mengumpulkan informasi mengenai nilai, minat, kelebihan dan kekurangan skill (career exploration), mengidentifikasikan tujuan karir, dan penggunaan strategi karir tersebut akan tercapai.

Sumber :
http://manajemena2011.blogspot.co.id/2013/05/perencanaan-karier.html
https://irrineayu.wordpress.com/2015/04/17/manajemen-karir-pengertian-tujuan-manfaat-proses-dan-perencanaan-karir/
http://belajarmsdm.blogspot.co.id/2010/05/manajemen-karir.html

#SIP CBIS, Data, Sistem Pakar

A.     Computer Base Information Sistem (CBIS) dan DATA       Computer Base Information Sistem (CBIS a.       Definisi Dalam Wik...